Anilisis Perubahan Cuaca di Berau

img

POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Sejak awal Maret, tinggi gelombang air laut di Kabupaten Berau telah mengalami penurunan, kini rata-ratanya mencapai 1-1,5 meter dari sebelumnya 2,5 meter.

 

Meskipun demikian, cuaca buruk dan hujan lebat masih mempengaruhi gelombang, sehingga masih berdampak terhadap hasil nelayan.

 

Analisis cuaca menunjukkan bahwa potensi hujan di bulan Maret tetap tinggi, terutama pada dasarian pertama. Namun, dalam dasarian kedua (11-20), perkiraannya menurun, sebelum meningkat kembali pada dasarian ketiga.

 

"Prediksi dinamika atmosfer menunjukkan distribusi hujan berada pada awal bulan dan akhir bulan Maret, walaupun intensitas di akhir bulan lebih rendah dibandingkan dengan awal bulan," ucap Reygik Riskianera selaku Forecaster, Selasa (12/03/2024).

 

Secara historis, Berau memiliki puncak musim hujan pada bulan Januari, dengan awal musim hujan pada bulan Oktober. Namun, fenomena menarik terjadi tahun ini. Awal musim hujan di wilayah Berau mundur menjadi bulan Desember. Maret ini, potensi hujan kembali tinggi, meningkatkan kondisi cuaca buruk di beberapa daerah.

 

Dalam gambaran lebih luas, Indonesia, khususnya Kalimantan, sedang mengalami periode intensitas hujan yang meningkat. Meskipun Berau memiliki puncak hujan normalnya pada bulan Januari, tahun ini menunjukkan variasi yang signifikan dalam pola cuaca.

 

"Perlu diingat bahwa analisis cuaca secara umum melibatkan pemantauan jangka panjang selama 30 tahun," tuturnya.

Namun, kondisi anomali seperti yang terjadi di Berau saat ini menjadi sorotan, menunjukkan perubahan pola cuaca yang dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari masyarakat setempat. (Sep/Nad)